Penahbisan Pnt Suhud Setyo Wardono







Dihadiri lebih dari 500 jemaat dan undangan. Pnt Suhud SW telah ditahbiskan sebagai pendeta GKI pada tanggal 17 Desember 2007. Kebaktian & Penahbisan berlangsung di Grha Wira Bhakti Universitas Dharma Persada Jl Radin Inten Pd Kelapa, Jakarta Timur, di mulai kl pukul 18.30.

Dibawah tema " Mutiara yang tersembunyi", Pdt Ujang Tanusaputra dalam kotbahnya bertanya apa hal hal paling dicari-cari orang dewasa ini? Dengan mengutip sepenggal lagu sekolah minggu, pdt Ujang seperti menggiring jawaban jemaat kepada kondisi bawah sadar yang menjadi kegelisahan & kerinduan banyak orang " Uang!".

Dilahirkan 36 tahun yang lalu, Pnt Suhud Setyo Wardono memiliki catatan latar belakang unik. Sebelum memutuskan untuk studi Theoogia di Universita Duta Wacana, ia telah bekerja selama kl 9 tahun -dengan karir yang baik dan meyakinkan- dan sempat menjadi plant manager di sebuah perusahaan multinasional dan ditempatkan di India.

Pdt Kuntadi Sumadikarya selaku ketua GKI sinode wilayah jabar dalam sambutannya menyampakan : Pnt Suhud memutuskan menjadi pendeta, ketika jalur kependetaan bukan satu-satunya pilihan yang ia miliki.

Suasana ketika pendeta-pendeta dilingkungan GKI dan pendeta perwakilan sinode lain
menumpangkan tangan ke arah pdt Suhud Susilo Wardono


Apa yang begitu berharga ? Menurut Pnt Suhud, setiap orang jawabnya berbeda-beda. Apa yang dianggap berharga oleh seseorang, bisa dianggap remeh orang lainnya. Hal yang paling berharga menurutnya adalah pengenalan akan Tuhan Yesus Kristus. Ia mengakui, ketika memutuskan untuk meninggalkan jabatan dan pekerjaannya untuk sekolah theologia -tanpa target menjadi pendeta- keputusan tersebut oleh teman-teman dekatnya dianggap sebagai keputusan yang "bodoh". Seperti ilustrasi orang yang menemukan harta terpendam yang dijadikan nats kotbah, Mat 13: 44-46, Iapun "menjual seluruh harta bendanya untuk membeli ladang itu"

Kepada Jemaat yang menyaksikan jalannya penasbihan, Pdt Kuntadi sempat berseloroh " Jangan ikut-ikutan Suhud, berhenti bekerja lalu menjadi pendeta GKI. Karena ada aturan di lingkungan GKI, calon pendeta maksimal berusia 35 tahun". Menurut pdt Kuntadi, bekerja adalah sesuatu yang mulia. Menjadi pendeta bukan satu-satunya cara untuk melayani Tuhan dan sesama. Ia menambahkan, uang sebagai upah pekerjaan bukanlah sesuatu haram. Namun jika uang telah menjadi segala-galanya, itulah yang menjadi persoalan.

Apa yang paling berharga, adalah pertanyaan yang menarik untuk selalu direnungkan. Apakah perjumpaan dan pengenalan Kristus adalah momen sejarah yang terjadi sekali atau suatu perjalanan -bahkan pendakian- hidup yang terus senantiasa perlu dimaknai ? dalam beberapa kesempatan, Pdt Suhud sempat mengakui" sepertinya, saya merasa lebih optimal melayani sebelum sekolah theologia dibandingkan sekarang ". Pergumulan ini menarik, mengingat ia menghadapi situasi ini bukan lagi sebagai Suhud selaku pribadi . Spektrumnya kini meluas, ia kini gembala dari sebuah jemaat. Dari satu sisi, apa yang disebut pelayanan telah menjadi tugas bahkan -dari kaca mata yang lain- "pekerjaan". Ketika pelayanan sudah menjadi "pekerjaan", adalah pengikutan dan pengenalan pribadi terhadap sang Kristus yang diyakini itu, juga telah menjadi "tugas" dan "pekerjaan" ?

Acara penastibahan berlangsung ditengah hujan gerimis yang mengguyur kota Jakarta. Panitia telah mengalihkan lokasi kebaktian ke gedung pertemuan Universitas Persada, untuk menghindari kemacetan yang mungkin terjadi jika tetap diselenggarakan di gedung GKI Buaran, Jl Buaran II/100.

Selamat untuk Pdt Suhud Setyo Wardono. Selamat untuk GKI Buaran yang telah memiliki pendeta ke -3 nya. Semoga pdt Suhud menjadi mutiara yang tersembunyi bagi jemaat dimana ia ditempatkan. Mutiara yang seringkali bukan hanya tersembunyi, tetapi bahkan tidak (lagi) terlihat berharga. HBM

durensawit, 18 desember 2007

Comments

Popular posts from this blog

Pekan Doa 2006