Pekan Doa 2006
WARTA PEKAN DOA IV 11 Juni 2006

Pekan Doa di GKI Buaran berlangsung ditengah duka dan keprihatinan mendalam atas terjadinya gempa di Jogja dan sekirtarnya.
Pekan Doa kali ini pada awalnya juga menyimpan beberapa 'kebimbangan'. Apakah kegiatan setiap malam itu akan mendapat response yg memadai ? Bukankah persoalan hidup belakangan ini semakin pelik dan tidak mudah ? Bukankah waktu tempuh kantor-rumah tidak pendek dan waktu yangada semakin sulit dibagi untuk diri sendiri & keluarga? Masih adakah waktu tersisa untuk berdoa bersama -bahkan setiap malam pula- ?!
Pnt. Suhud SW dalam satu renungan menyampaikan “alangkah tidak mudah mencari saat-saat hening utk berdiam diri saat ini? Keseharian kita dipenuhi dengan berbagai kegiatan & kesibukan. Dering telepon, ketukan pintu, televisi, bunyi musik & radio yang setiap kali menyala membuat kita sulit untuk berdiam diri”. Keheningan & waktu pribadi terlihat semakin mahal dan musti “dicuri” atau malah “diserobot” dari berbagai kesibukan. Pekan Doa yg baru berlalu seperti 'upaya paksa' kearah itu. Kesibukan memang tidak ada habisnya, tetapi adalah penting utk tetap memiliki waktu-waktu pribadi bersama Tuhan dalam persekutuan orang beriman. Pekan doa kali ini adalah upaya keras “menemukan kembali kekuatan doa sebagai nafas orang percaya, ditengah pergumulan hidup yang semakin kompleks”.

Malam demi malam yang dilalui selama rangkaian acara pekan doa membuktikan hal yang sebaliknya. Pekan Doa dari 26 mei sd 3 juni- berlangsung diikuti dengan antusias yang tinggi setiap harinya oleh jemaat GKI Buaran! Dalam delapan kali pertemuan, rata-rata jumlah yang hadir adalah 69 orang (jumlah yang cukup berarti untuk jumlah KK yg kl 350). Di hari 'macet regional' sebagaimana selalu terjadi saban jumat, pengunjung masih mencapai 53 dan angka pengunjung kebaktian mencapai 93 diakhir pekan. Angka tentu bisa mengecoh dan memang bukan disitu persoalannya. Namun angka juga dapat dimaknai : kerinduan itu ada, bahkan dalam antusiasme dan kerinduan yang besar.
Usai doa meditatif & kontem-platif Taize, dimana pengunjung sebagian duduk dilantai, dalam hening, seorang ibu menyampaikan
“ Apakah tidak sebaiknya gereja mengadakan kelas-kelas doa taize semacam ini, paling tidak sebulan sekali ?” Pdt. Ferdy Suleeman dalam sarasehan yg mendapat animo besar menyampaikan “ Doa perlu dilatih, bahkan ada pelatihan doa”. Doa mengubah sikap k
ita terhadap apa yang kita lakukan. Doa lebih kaya dari ucapan-ucapan yang dapat kita sampaikan. Doa juga bisa disampaikan dalam ucapan-ucapan pendek pada berbagai kesibukan kita, dalam setiap tarikan nafas orang percaya“ Engkaulah Gunung Batuku”, “ aku milik-Mu”, “aku bergantung padaMU” secara berulang dan terus menerus. Kesaksian dan re nungan lain yang dibagikan setiap malam menyuarakan hal senada. Seorang ibu mengutip Firman Tuhan “ cukuplah kesusahan sehari untuk sehari, demikian pemeliharaan Tuhan”. Seorang bapak menyampaikan pergumulan etik yg hebat ketika terjun di kancah peperangan tim-tim, anno 1975 demikian juga pergumulan pribadi lain di P. Muna yang dirasakan seorang warga, di awal krisis moneter 1989. Sepasang pasutri yg mencoba senantiasa hadir sesungguhnya adalah “pengungsi” di tempat sendiri, sebelumnya musibah besar terjadi -kebakaran yg menghabiskan rumahnya- Kehadiran & keteguhan hatinya menjadi berkat
tersendiri bagi siapapun yang mungkin tengah mendapat berbagai kesusahan: bahwa kita tidak sendiri, Tuhan berserta, bahkan jauh di lembah pergumulan terdalam kehidupan kita. Ketua Majelis GKI Buaran sempat membagikan peran doa dalam kilas balik pasang surut kehidupan bergereja GKI Buaran dimasa lalu. Demikian berbagai pergumulan-pergumulan lain yang tidak mungkin disampaikan satu-per-satu.
Sebagai respon terhadap permintaan/usulan beberapa jemaat pada akhir Pekan Doa, muncul 'spontanitas' untuk menghidupkan kembali 'doa pagi' setiap hari sabtu di ruang kebaktian GKI Buaran. Doa pagi pertama telah berjalan pada tgl 10 Juni 2006.
Kami mengundang saudara-saudara untuk menghadiri doa pagi setiap hari sabtu dari pukul 06.00 s/d 07.00 WIB. Karena : langit tak selalu cerah, dan jalan tak selalu lapang, bahkan bumi yang kita injak, mendadak suatu ketika retak. Namun Tuhan senan-tiasa memper-hatikan kita.
Datang dan marilah saling menguatkan didalam persekutuan & doa. Tuhan memberkati!

NB: Pada setiap doa pagi disediakan sarapan pagi/hidangan kecil.
Ketika bumi yang kita injak retak!

Pekan Doa di GKI Buaran berlangsung ditengah duka dan keprihatinan mendalam atas terjadinya gempa di Jogja dan sekirtarnya.
Pekan Doa kali ini pada awalnya juga menyimpan beberapa 'kebimbangan'. Apakah kegiatan setiap malam itu akan mendapat response yg memadai ? Bukankah persoalan hidup belakangan ini semakin pelik dan tidak mudah ? Bukankah waktu tempuh kantor-rumah tidak pendek dan waktu yangada semakin sulit dibagi untuk diri sendiri & keluarga? Masih adakah waktu tersisa untuk berdoa bersama -bahkan setiap malam pula- ?!
Pnt. Suhud SW dalam satu renungan menyampaikan “alangkah tidak mudah mencari saat-saat hening utk berdiam diri saat ini? Keseharian kita dipenuhi dengan berbagai kegiatan & kesibukan. Dering telepon, ketukan pintu, televisi, bunyi musik & radio yang setiap kali menyala membuat kita sulit untuk berdiam diri”. Keheningan & waktu pribadi terlihat semakin mahal dan musti “dicuri” atau malah “diserobot” dari berbagai kesibukan. Pekan Doa yg baru berlalu seperti 'upaya paksa' kearah itu. Kesibukan memang tidak ada habisnya, tetapi adalah penting utk tetap memiliki waktu-waktu pribadi bersama Tuhan dalam persekutuan orang beriman. Pekan doa kali ini adalah upaya keras “menemukan kembali kekuatan doa sebagai nafas orang percaya, ditengah pergumulan hidup yang semakin kompleks”.

Malam demi malam yang dilalui selama rangkaian acara pekan doa membuktikan hal yang sebaliknya. Pekan Doa dari 26 mei sd 3 juni- berlangsung diikuti dengan antusias yang tinggi setiap harinya oleh jemaat GKI Buaran! Dalam delapan kali pertemuan, rata-rata jumlah yang hadir adalah 69 orang (jumlah yang cukup berarti untuk jumlah KK yg kl 350). Di hari 'macet regional' sebagaimana selalu terjadi saban jumat, pengunjung masih mencapai 53 dan angka pengunjung kebaktian mencapai 93 diakhir pekan. Angka tentu bisa mengecoh dan memang bukan disitu persoalannya. Namun angka juga dapat dimaknai : kerinduan itu ada, bahkan dalam antusiasme dan kerinduan yang besar.
Usai doa meditatif & kontem-platif Taize, dimana pengunjung sebagian duduk dilantai, dalam hening, seorang ibu menyampaikan
“ Apakah tidak sebaiknya gereja mengadakan kelas-kelas doa taize semacam ini, paling tidak sebulan sekali ?” Pdt. Ferdy Suleeman dalam sarasehan yg mendapat animo besar menyampaikan “ Doa perlu dilatih, bahkan ada pelatihan doa”. Doa mengubah sikap k
ita terhadap apa yang kita lakukan. Doa lebih kaya dari ucapan-ucapan yang dapat kita sampaikan. Doa juga bisa disampaikan dalam ucapan-ucapan pendek pada berbagai kesibukan kita, dalam setiap tarikan nafas orang percaya“ Engkaulah Gunung Batuku”, “ aku milik-Mu”, “aku bergantung padaMU” secara berulang dan terus menerus. Kesaksian dan re nungan lain yang dibagikan setiap malam menyuarakan hal senada. Seorang ibu mengutip Firman Tuhan “ cukuplah kesusahan sehari untuk sehari, demikian pemeliharaan Tuhan”. Seorang bapak menyampaikan pergumulan etik yg hebat ketika terjun di kancah peperangan tim-tim, anno 1975 demikian juga pergumulan pribadi lain di P. Muna yang dirasakan seorang warga, di awal krisis moneter 1989. Sepasang pasutri yg mencoba senantiasa hadir sesungguhnya adalah “pengungsi” di tempat sendiri, sebelumnya musibah besar terjadi -kebakaran yg menghabiskan rumahnya- Kehadiran & keteguhan hatinya menjadi berkat
tersendiri bagi siapapun yang mungkin tengah mendapat berbagai kesusahan: bahwa kita tidak sendiri, Tuhan berserta, bahkan jauh di lembah pergumulan terdalam kehidupan kita. Ketua Majelis GKI Buaran sempat membagikan peran doa dalam kilas balik pasang surut kehidupan bergereja GKI Buaran dimasa lalu. Demikian berbagai pergumulan-pergumulan lain yang tidak mungkin disampaikan satu-per-satu.Sebagai respon terhadap permintaan/usulan beberapa jemaat pada akhir Pekan Doa, muncul 'spontanitas' untuk menghidupkan kembali 'doa pagi' setiap hari sabtu di ruang kebaktian GKI Buaran. Doa pagi pertama telah berjalan pada tgl 10 Juni 2006.
Kami mengundang saudara-saudara untuk menghadiri doa pagi setiap hari sabtu dari pukul 06.00 s/d 07.00 WIB. Karena : langit tak selalu cerah, dan jalan tak selalu lapang, bahkan bumi yang kita injak, mendadak suatu ketika retak. Namun Tuhan senan-tiasa memper-hatikan kita.
Datang dan marilah saling menguatkan didalam persekutuan & doa. Tuhan memberkati!

NB: Pada setiap doa pagi disediakan sarapan pagi/hidangan kecil.
Comments
ayooo dong...